telah meninggalkan sebuah bingkisan
serupa lilin di meja makan.
Aku terdiam menatap wajahnya sayu,
"Kawan, jangan memelukku saat berpisah,
agar air mata tak tumpah,
dan linanganmu tak memudarkan gelapku.
Cahaya ini akan menemani
meski hanya mampu jadi temaram."
"Selamat tinggal, kawan.
Aku kan tetap di hatimu.
Sungguhpun kau tak ingin,
aku pasti bersamamu.
Maka jangan ingkari,
sebab setitik itu adalah pijakan
agar engkau selalu di ruang cahaya."
Dia pergi dan aku sendiri.
Mencari ruang-ruang terjanji.
26 Agustus 2003

