Surat Untuk Sebuah Nama

to:
Cahaya Mata
di separo Bulan

Salamku, wahai Cahaya Mata.

Di hari ini kita bertemu kembali diiringi cerah seperti tiap waktu kita harapkan kehadirannya. Maaf karena hanya sekejap menyua dengan mata suram serta senyuman yang tiba-tiba terkembang atas hadirmu dalam detik-detik perjalanan.

Aku masih ingat saat kali pertama kita bersua, pertemuan demi pertemuan cahaya itu selalu ada. Waktu itu engkau dendangkan syair-syair Al-Manfaluthi sambil berseru pada binar-binar mata, "cinta adalah racun oleh dunia kata, hanya pengorbanan dan air mata yang mampu mencipta manis-manis anggur memabukkan dalam piala-pialanya." Aku tersentak karena telah tergenggam jemari yang merengkuh kepala beserta mimpi-mimpi yang terkurung di dalamnya. Cahaya yang kau pancarkan sungguh nyata, namun teramat samar bagi mata yang kini makin rabun oleh perjalanan-perjalanan dusta di sepanjang pematang-pematang rawa Sang Matahari.

Engkau tlah tahu apa yang ada dalam gejolak jiwa, sebab tlah kuukir namaku dalam pertautan udara-udara yang kurangkai jadi sebuah nama: Amare. Tlah tertitipkan juga salam bagi kenangan dan keraguan yang senantiasa menjadi hantu-hantu bagi rangkaian udara dalam nafasku hingga segala kisah menjelma tubuh-tubuh para saudara. Dan kala itu, aku tlah lihat tubuh-tubuh Bulan walau hanya separo.

Tahukah engkau wahai Cahaya? Aku rindukan sorotanmu untuk kembali dalam rentang-rentang waktu yang selalu memelukku. Namun dia masih ragu, adakah pelukan-pelukan itu mampu menjelma wajah-wajah kekasih ataukah kembali menjelma tubuh saudara. Sungguh, dia selalu ragu hingga tlah ditariknya planet-planet dari garis edarnya hanya untuk menanyakan dimana garis edarmu dan di separo-separo Bulan yang mana matamu terpancar. Bahkan dia pun bertanya, adakah engkau tlah berada pada garis-garis edar Bumi untuk berevolusi atas kecintaan pada Cahaya Matahari.

Jika engkau bersua dengan Waktu, sudilah engkau menyapanya agar dia sampaikan pancaran-pancaranmu atas tubuh-tubuh cinta yang hendak melahirkan cahaya dari dalamnya. Agar ketika pun malam, rindu pencahayaan tak menjadi makin gelap dalam penantiannya.

Salam kenal dan rindu,

Amare
[cahaya yang tak terlahir]

11 Juni 2003
[ sebenarnya aku ragu apakah ini masuk dalam kategori puisi atau nggak]